Jumat, 07 Desember 2018

International Space Station (YouTube Channel Strategic Frontier)

ISS (International Space Station) is the largest man-made object in the sky and is home to a crew of ten astronauts. They are carrying out experiment to investigate how life might be moved off the planet. 
In February 2008, space shuttle Atlantis began a 13 days mission to deliver the latest component to the continually evolving ISS Kennedy Space Center travelling 2000 miles an hour. ISS does use its own thrusters to boost it back up to orbital velocity instead it uses thrusters on a docked craft such as the shuttle. Nine satellites circle the globe thousands of kilometers above the space station. They are locked in orbit and fixed points around the Earth's equator together the satellites give mission control almost uninterrupted contact with the space station as its orbit below. 350 kilometers above the Earth, space shuttle Altlantis approaches the ISS. 
If you are wondering about how the astronauts survive with water and electricity, the recycling system on the space station manages to recover an incredible 94% of the wastewater produced by the astronauts. Inside the space station's life support system electricity is passed through tanks of recycled water. This charge of energy splits the water line into its chemical components hydrogen and oxygen. For the spacesuit, the cumbersome spacesuit makes event the simplest tasks such as turning a wrench extremely challenging. 
Today the ISS, the time has come to bolt on the new modals of prefabricated science laboratory. 

Duka Tanah Lombok, Pulau Seribu Masjid


Gempa bumi yang terjadi di pulau Lombok, tepatnya Lombok Utara pada tanggal 29 Juli 2018 menjadi salah satu berita mengejutkan bagi negara Indonesia mengingat saat itu, Indonesia tengah menjadi tuan rumah salah satu olimpiade olahraga paling bergengsi tingkat Asia, yaitu Asian Games 2018. Kejadian ini terus dimuat di berbagai media baik elektronik maupun cetak. Gempa yang berkekuatan 6,4 SR tersebut terjadi pada pukul 06.47 WITA dan berada di 47 km timur laut Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat dengan kedalaman 24 kilometer. Tercatat pada awal terjadinya gempa, telah ditemukan 20 korban tewas dan 401 korban luka-luka. Tidak hanya itu, pada hari Minggu tanggal 19 Agustus 2018, gempa susulan berkekuatan 5,2 SR kembali mengguncang Lombok dan sekitarnya. Gempa tersebut adalah guncangan susulan yang terus berulang dalam periode empat jam. Sebelumnya, pada pukul 06.29 WIB, terdapat guncangan sebesar 4,8 SR dengan kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa berada di laut sejauh 34 kilometer sebelah timur Lombok Utara. Kemudian pukul 04.21 WIB dan 04.50 WIB gempa kembali terjadi, masing-masing sebesar 5,0 SR dan 5,2 SR. Tidak hanya di Lombok Utara, gempa tersebut juga turut dirasakan di Lombok Timur, Bali, Sumbawa, Jawa Timur, dan Makassar.
            Segera setelah terjadinya gempa, berbagai bantuan telah dikirim untuk membantu para korban di Lombok. Bantuan yang langsung disediakan ialah tenda pengungsian di mana saat ini, sudah tersedia sekitar 3000 tenda yang didapatkan dari Kementrian Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tenda-tenda tersebut telah dipakai di posko pengungsian, seperti di lapangan depan kabupaten Lombok Utara. Untuk sementara, para korban hanya bisa menggantungkan hidup mereka kepada bantuan kemanusiaan sembari menunggu mereka untuk bangkit kembali. Meski sejumlah bantuan terus menerus datang, namun beberapa hal yang paling mereka butuhkan saat itu meliputi;
-          Air bersih dan sanitasi. Air bersih merupakan salah satu sumber kebutuhan utama yang paling mereka butuhkan, entah untuk mandi, mencuci, dan kakus. Untuk wudhu pun mereka hanya menumpahkan air dari botol mineral. Bantuan air bersih ini difokuskan pada lokasi pengungsian, rumah sakit, dan pemukiman yang dihuni banyak penduduk.
-          Selimut. Mengingat hanya tinggal di tenda pengungsian dengan cuaca yang tidak menentu serta nyamuk yang lebih mudah masuk, bantuan selimut juga sangat dibutuhkan.
-          Donor darah. Banyak dari korban luka berat, patah tulang, ataupun luka robek, yang membutuhkan donor darah. Pasien rata-rata dirawat di rumah sakit di Kota Mataram.
Di wilayah Lombok Timur, Palang Merah Indonesia juga melakukan pelayanan kesehatan dengan klinik keliling terutama di wilayah Sambelia yang merupakan kawasan pegunungan paling sulit dijangkau. PMI juga membuka layanan dapur umum di wilayah Bayan, Lombok Utara sebagai kelanjutan dari operasi tanggap darurat bencana. Dapur umum tersebut menyediakan makanan siap saji sebanyak 770 porsi per hari untuk kebutuhan masyarakat yang terkena dampak gempa. Bahan logistik yang digunakan di dapur umum didapat dari sumbangan yang berasal dari berbagai pihak.
Kejadian yang menimpa Lombok ini jelas menjadi pukulan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Sebagai seorang yang memiliki kerabat di Lombok, saya pun turut merasakan duka yang orang-orang rasakan di sana. Kehidupan yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba berubah di mana komunikasi sempat terhambat akibat tidak tersedianya jaringan telepon seluler. Lampu yang biasa menerangi pun turut padam dan hanya bisa digantikan dengan senter, lilin, dan cahaya rembulan. Setiap malam, mereka harus tidur di tenda pengungsian yang dingin dan banyak nyamuk. Tidak ada lagi rumah untuk berlindung, bahkan sekolah yang biasa dijadikan tempat untuk menuntut ilmu dan berjumpa dengan kawan pun hancur rata oleh tanah. Saya bisa membayangkan betapa sulitnya ketika kita harus beradaptasi dengan keadaan seperti itu. Untuk membangun kembali sarana dan infrastruktur pun pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Belum lagi ketika harus membagi semua fasilitas dengan orang-orang yang tidak dikenal. Selain itu, menyembuhkan rasa trauma bagi sebagian orang mungkin juga membutukan waktu yang lama. Selain berdampak pada luka fisik, kondisi psikologi dari para korban terutama anak-anak juga sempat terguncang. Terutama bagi mereka yang tiba-tiba harus kehilangan kedua orang tua mereka. Jika saya berada di posisi mereka, mungkin saya juga akan sama terpuruknya. Mereka yang masih bertahan dan menerima semua yang terjadi dengan tabah dan ikhlas adalah pribadi yang kuat. Bahkan sebagian juga turut menguatkan satu sama lain.
Di sisi lain, banyaknya partisipasi dari masyarakat Indonesia mulai dari sumbangan yang sudah mencapai puluhan miliyar, hingga kesediaan beberapa pihak untuk ikut menjadi relawan di Lombok merupakan unsur terpenting dari tercapainya tujuan membangun kembali pulau Lombok. Puluhan dapur umum saat ini sudah tersebar di beberapa daerah yang membutuhkan. Pembangunan juga sekarang berfokus pada ‘hunian sementara’ yang diperuntukkan bagi ratusan anggota keluarga sehingga mereka bisa tinggal bersama keluarga masing-masing tanpa harus terus-menerus berbagi tempat dengan anggota keluarga lain di tenda pengungsian. Saya dan teman-teman juga sempat meluangkan waktu untuk turut serta menggalang dana demi terwujudnya hunian sementara tersebut. Kami mulai menggalang dana di beberapa fakultas di kampus kami mulai dari FBS, FMIPA, FE, FIS, hingga FT. Selama mengunjungi beberapa fakultas, kami bekerja dengan kelompok lain. Salah satu dari anggota kelompok kami memberikan sebuah nyanyian untuk beberapa kelompok mahasiswa sehingga mereka bisa lebih nyaman menyumbangkan sebagian uang sekaligus menjadi hiburan tersendiri untuk mereka. Kami juga mendatangi beberapa tempat sekitar Semarang yang biasa dikunjungi oleh banyak orang seperti; Kota Lama, Simpang Lima, dan PRPP. Adapun dana yang kami peroleh kemudian disalurkan ke kampung Miempu Desa Obel melalui yayasan Khairul Ummah Amanah.
Namun kejadian yang menimpa Lombok ini bukanlah sesuatu yang harus diratapi terus-menerus. Setiap apa yang telah ditentukan oleh Tuhan YME tentulah memiliki hikmah tersendiri. Perlahan namun pasti, masyarakat Lombok harus  bangkit dari keterpurukan. Adanya bencana gempa yang terjadi di Lombok setidaknya bisa menjadi bukti bahwa di luar sana, masih banyak sekali orang-orang yang peduli dengan sesama, terbukti dengan banyaknya dana bantuan yang terus mengalir serta banyaknya relawan yang datang langsung ke lokasi kejadian untuk memantau dan membantu mereka yang membutuhkan. Kejadian ini juga bisa menjadi pelajaran untuk kita yang daerahnya masih dihindarkan oleh bencana untuk terus bersyukur akan nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Kita juga dapat instropeksi diri mengenai seberapa besar rasa kemanusiaan yang kita miliki terhadap saudara-saudara yang ada di Lombok.
      Kami berharap bencana yang sama tidak akan terulang lagi, serta mereka yang menjadi korban dapat segera bangkit. Karena meskipun tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula, pemerintah akan terus membantu membangun kembali sarana prasarana dan meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat yang ada di Lombok.